Pages

January 31, 2011

October 4th

Kita sudah sepakat mengumpulkan perjah rindu satu satu.
Lalu kau menemuiku dengan sebungkus kuaci paling madu.
Menemani perbincangan kita nanti, katamu.
D perjalanan, kau menelponku.
Memintaku menunggu d sudut stasiun Rangkas Bitung...

January 29, 2011

Terbitlah Selalu

Senyummu akan selalu terbit untukku: kekasih yang kembali merapal rindu di purbakayu.
Tak akan kubiarkan senja mengejamu terbenam lagi. Akan kutawar ia dengan sajakku. Ya, tabungan sajakku pasti cukup membayarnya untuk tetap menerbitkan senyummu.
Senyum lelaki yang tak henti kujatuhcintai setiap hari...

January 28, 2011

Ingatkan aku pada Senja

Kau benar, kawan. Aku tak lagi terobsesi diksi. Atau menyengajakan diri mematri di depan rakrak buku penuh inspirasi.
Aku telah kalah kini. Oleh berlembar sibuk yang menumpuk. Dan matamata bening yang menyapaku tiap pagi.

January 26, 2011

Puisi-puisi Rieke Diah Pitaloka

Renungan Kloset
                             
Ada baiknya,
            tak mencatat hidup
            dalam lembarlembar buku harian
Suatu masa,
            jika membacanya lagi
            manis, membuat kita ingin kembali
            pahit, membuat duka tak bisa lupa

August 6, 2010

Ingin

Aku ingin menulis. Mendefinisikan satusatu,mozaik yg tlah trkumpul. Menciptakan sosok mirip senja--jiwa yg sering kubualkan.
Jika suatu hari kau datang lagi menanyaiku tentangnya,kuharap kau belum berubah. Tak peduli restu awan. Hanya ingin singgah sebentar saja. Menikmati derai daun yg bersinggungan dgn parau suaramu.

Kembali



Kutata hari ini sejak semalam..
Kupikir inilah suasana yg kuharapkan. Kembali berkumpul.
Menapaki karpet hijau.
Meski sndiri, ruah tetap tumpah. Pun bahagia merebaki seluruh ruang hati.
Mengabarkan pada resah:
aku kembali.

(percikan iman, 4 okt 09)

Jejak


Aq sempat khawatir kita akan trtaBrak awan, terpeleset grimis, atau terbakar senja...
Tp embun d sudut mata kita menerjemahkan:
aku tak perlu lagi khwtir...

malam


saya rasa sudah malam.tak usah lagi d terka. lampulampu sudah dimatikan. tinggal redup kamar mandi yg masih menyisakan letih sikat gigi,
dan saya yang diamdiam memendam cinta yang begitu besar padaNya..
esok akan saya kirimi Dia surat lewat kantor pos terdekat..

menjemput mimpi



saya masih melaju. menembus malam. disaksikan kerlip serupa bintang.
mereka bilang saya harus datang jam setengah sebelas besok siang. lantas saya di sini. menjelajah sampai cipularang. membincangkan lainlain dengan kawan sebangku.
sebenarnya gigil saya tak henti menyeruak. tapi saya simpan saja di balik sweater biru yang sudah tak hangat lagi. semuanya tak perlu saya pikirkan. saya hanya hrus segera menjemput mimpi. itu saja.

:

kini aku titik dua.
menjadi antara.
mereka mentari aku gemintang.
mereka fajar aku senja. mereka cinta,
aku tetap memilih rindu.

esok lebih cerah

Baiklah, kita sudahi saja rasa lelah td siang.
Aku mulai nyaman meniti terik.
Membingkisnya dengan pita warna warni.
Lalu, kulewati seprtiga malam nanti.
Kupersembahkan bingkisan ini, penebus esok penuh bahagia...
amiin,...

berguru pada hujan

Lalu kutanam doamu lewat hujan.
Biar tak usah lagi kusiram....

SatU rol kLise

Smua org tampak seperti kLise d matamu. Yg hitam jd puTiH, yg puTiH jd hitam. Lalu kamu mengajak saya membingkai kLisekLise itU dlm suatU piGura.
Dan saya benci melakukannya. Saya sama skali tak menyukai negatif film. Semua objek d mata saya adalah positif, hasil cuci cetak dgn warna nOrmal...

1

Ada gurat lelah sehabis dia mimpi semalam.
Tatapannya tak lagi sejingga senja.
"Kenapa dia begitu?" tanyamu suatu ketika.
Kubilang saja,
dia terlalu jengah terpejam.
...

Nona

Ikat saja rambutmu, Nona.
Td siang,saat lantunan ayat pngantar si mayat dbaca pa Ustadz,para peziarah brgunjing ttg sampo apa yg kau pakai.
Atau tutupi saja dgn syal yg melingkar manja d lehermu. Itu pun kalau kau tak keberatan,

Rindu pada diksi yg manis

Aku mulai lupa mengintip diary d hari kamis,
menyisipkan tanggal d tiap halamannya yg tipis,
membincangkan lelah bahagia dlm diksi yg manis,
lantas, kubisikkan pada malam yg gerimis....

¥.@/!#¿

Kembali menadah tangis senja tadi.
Tak ada yg menawar atau menukarnya dgn sebungkus permen.
Dan mereka hanya membiarkannya berlalu, membawa secawan tangis mengitari jalanan sepi.

juni

Nama saya Juni. Seorang perempuan yang tergila-gila pada hijau,
pada ranting,
pada senja,
pada hujan,
pada cat tembok yg mengelupas,
pada ujung jilbab saat dterpa angin,
pada malam yg selalu menyisakan tanya,
padaMu yg akan tetap menjadi tujuan hidupku...

June 24, 2010

Puisi Pak Habibie untuk Istrinya

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,

June 23, 2010

Titik Dua :

Kini aku titik dua. menjadi antara. mereka mentari aku gemintang. mereka fajar aku senja. mereka cinta, aku tetap memilih rindu.